Mencintaimu dalam Diam?
Bismillahirrahmanirrahim. Pagi tadi aku membaca tulisanmu lagi. Lagi, hatiku bergetar akan itu. Seperti biasa, aku tidak punya alasan mengapa hatiku terdorong membacanya. Setelah sekian lama,tak pernah melihat sosokmu lagi, aku seperti terkurung dalam sebuah dimensi saat membaca tulisan panjang itu. Seperti di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku benar pertama merasakan hal ini. Perasaan yang entah apa namanya. Karena aku yakin, perasaan mencintai yang sebenarnya hanya akan ada setelah terucap namaku oleh entah siapa di depan orang tuaku kemudian diiringi “teriakan” sah oleh orang-orang yang mengenalku di suatu hati, yang entah kapan akan terjadi. Semua orang mengenalku puitis. Mengenalku dengan kiasan tersembunyi I balik larik puisiku yang entah mereka bisa membacanya atau memang hanya aku mengerti maknanya. Semua orang telah menilaiku dengan presepsinya masing-masing. Dan aku sebenarnya tidak mau peduli akan itu. Tapi benar, otakku pun selalu menyuruhku untuk tidak memikirkan ...