Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Mencintaimu dalam Diam?

Bismillahirrahmanirrahim. Pagi tadi aku membaca tulisanmu lagi. Lagi, hatiku bergetar akan itu. Seperti biasa, aku tidak punya alasan mengapa hatiku terdorong membacanya. Setelah sekian lama,tak pernah melihat sosokmu lagi, aku seperti terkurung dalam sebuah dimensi saat membaca tulisan panjang itu. Seperti di tulisan-tulisanku sebelumnya, aku benar pertama merasakan hal ini. Perasaan yang entah apa namanya. Karena aku yakin, perasaan mencintai yang sebenarnya hanya akan ada setelah terucap namaku oleh entah siapa di depan orang tuaku kemudian diiringi “teriakan” sah oleh orang-orang yang mengenalku di suatu hati, yang entah kapan akan terjadi. Semua orang mengenalku puitis. Mengenalku dengan kiasan tersembunyi I balik larik puisiku yang entah mereka bisa membacanya atau memang hanya aku mengerti maknanya. Semua orang telah menilaiku dengan presepsinya masing-masing. Dan aku sebenarnya tidak mau peduli akan itu. Tapi benar, otakku pun selalu menyuruhku untuk tidak memikirkan ...

Sepenggal Terimakasih

Gambar
It is not the half... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 21 Juni 2018. Selamat berkurang umur diri sendiri. Sebelumnya terimakasih teman-teman yang bersedia untuk masih mengingat hari dimana orang yang mengirim tulisan ini pertama kali melihat dunia. Terimakasih orang tuaku, dan kedua saudaraku dan seluruh keluargaku yang telah membantuku hidup hingga titik 20 tahun ini. Tak kenal lelah menghadapi seorang anak dan saudara perempuan satu-satunya yang keras kepala dan tidak mau diatur. Terimakasih sudah jadi tempat sampah paling mengerti untuk kalian para Bureng in silent ku, terimakasih sudah bersedia melampiaskan dan dilampiaskan masalah :’v . Terimakasih telah menjadi teman-teman yang paling mengerti ketika aku diam dan bungkam tanpa kata. Terimakasih telah menjadi sandaran terhebat ketika semua dunia menjauh ditanah perantauan. Terimakasih karena lebih memilih tidak kerja tugas daripada menjual teman sendiri. Terimakasih adik paling cerewetku...

Apa Kau Mau Menjadi Temanku?

Selamat hampir malam. Sebenarnya sama sekali aku tak berniat melukiskan luka yang benar-benar menhancurkan hatiku di sepanjang hampir tiga tahun ini. Hari ini sebenarnya sebuah hari yang menyakitkan. Entah karena aku yang cukup gila untuk memendam perasaan atau karena aku yang terlahir sebagai seseorang yang selalu telalu membawa perasaan. Aku mengerti, bagaimana sebenarnya kekuranganku dalam menyikapi sekitarku. Aku mengerti, mungkin saja ini teguran yang ALLAH SWT berikan padaku. Tapi seandainya mereka semua tahu, bagaimana niatku yang kubangun sejak dulu. Andai saja mereka mau peduli padaku. Aku paham nasihat lama, “Semua orang mempunyai cara mengekspresikan kepeduliaanya masing-masing”. Aku paham ketika semestinya aku harusnya menodong otakku sendiri namun aku keras kepala ingin memenuhi egoku. Mereka semua tidak tahu apapun tentangku. Sedikit pun. Everyone standing in highest then said “Trust me”, the anyone, others will come “Do not ever trust them” ...
Aku benar tak mengerti tentang hatiku malam ini, setelah melihatmu dengan jelas seminggu belakangan ini. Aku benar tak mengerti bagaimana hatiku benar-benar tersita padamu, kamu telah mematahkan ku berkali-kali, mencaci maki ku, menyeret tiap kata yang begitu kasar dan aku tetap pada perasaanku. Ak tak mengerti ketika sejenak aku membencimu namun tetap saja perasaan tak berubah. Hari ini, tadinya aku ingin sekali bertemu denganmu, membicarakan hak yang mungkin menjadi penghalang di antara kita selama ini, telah ku kumpulkan jutaan milyaran niat untuk hal itu, tapi sayang sepertinya takdir memang menuntun ku untuk jauh darimu, pengakuan demi pengakuan mulai terdengar lagi di telingaku, sejenak sore tadi pun aku melihatmu dengan dia yang 'katanya' ada di hatimu, baiklah, kufikir hati memang harus berhenti. Tapi tetap saja, langit. Aku ingin sekali berhenti, bukan karena itu saja, tapi memang ribuan alasan telah berada dalam kepalaku namun kenapa rasanya sulit sekali atas itu? ...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Selamat malam, hati. Aku tidak tahu menulisnya. Malam ini, aku merasa menjadi penulis terbodoh bahkan di cerita nyataku sendiri. Aku merasa menjadi gadis terbodoh sepanjang masa. Aku merasa menjadi gadis terburuk. Aku merasa menjadi teman yang paling buruk. Aku sudah sembilan belas tahun, tapi bagaimana mungkin aku bisa jatuh di tempat yang seperti ini? Bagaimana mungkin aku bisa tenggelam di tempat gelap yang benar benar kusadari itu adalah tempat yang sama sekali tak ada cahaya. Hati, kamu kenapa? Aku sama sekali tidak mengerti, aku tidak mengerti mengapa laki-laki dan perempuan tidak bisa berteman tanpa ada rasa ingin memiliki lebih dari teman, maksudku ah kau tau lah sendiri apa itu. Aku sama sekali tak pernah percaya itu, tapi perlahan mengapa aku seakan menyuruh hatiku percaya? Sekali lagi aku tidak mengerti, bagaimana jatuh cinta itu. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu mudah membiarkan hati ku di patahkan begitu saja. Aku tida...
Selamat malam, kekasih. Aku sendiri yang menyebutmu sebagai kekasih. Hati, terlalu ingin memiliki. Tak terkira dalam diam. hanya berani menyapa lewat mata. Hati, kenapa selalu  saja bersedih. Sederet dentuman, lagi dan lagi. Hati, kenapa kau terlalu tertatih. bukankah kau siap patah berkali kali? Selamat malam, kau yang ku sebut kekasih. Walau hanya sepihak dalam imajinasi. Kau tak perlu takut, aku tak akan pernah melukai hati yang kau perjuangkan. Aku pun sebenarnya sedang diam. Aku lebih berani memaki dan mencibir mu serta memelukmu lewat senyap nya angin yang cuma numpang lewat. kekasih,aku tidak tahu sedang menulis apa sekarang, aku rindu. Padamu yang sebenarnya tak pernah sedikit pun melihat ke arahku. Kekasih, katakan aku bodoh, dan memang aku bodoh. Mengapa aku bisa luluh padamu? bahkan kamu tak pernah mengerti dan mencoba menilik tiap puisi romantis yang kutulis di berbagai layarku yang sebenarnya hanya untuk dirimu, atau mungkin, kamu sadar dan tahu tapi ka...

Hanya Cerita

Sebelumnya, ini hanya sederet kata yang mungkin akan terkesan membuang waktu kalian, tapi deretan ini benar benar kuniatkan untuk kalian agar kalian sadar betapa berharganya kalian, betapa mulianya kalian, bahkan ALLAH SWT mengkhususkan kalian dalam Al-quran dalam satu surah, An-Nisa. Entah hati tergerak dari mana menulis kata ini, tapi telah lama terpampang pampang adik adikku teman teman ku dan kakak kakakku di sosial media sana, membuka aurat mengekspos yang seharusnya tidak diekspos. Mungkin ini terkesan menggurui tapi apalah daya, saya hanya ingin belajar menyampaikan, belajar merefleksi diri, belajar mengingatkan diri sendiri. Saya pun pernah berada diposisi kalian, menggunakan baju sempit, jeans, baju kaos lengan pendek, rambut terurai.. Semacam ada kesenangan tersendiri terbesit ketika kita meng-upload foto kita ke sosial media kemudian di "love" dan di "comment" oleh orang orang yang mungkin memang terkesima atas hasil jepretan kita, hasil ekspos nya kit...