Selamat malam, kekasih.
Aku sendiri yang menyebutmu sebagai kekasih. Hati, terlalu ingin memiliki. Tak terkira dalam diam. hanya berani menyapa lewat mata.
Hati, kenapa selalu saja bersedih.
Sederet dentuman, lagi dan lagi.
Hati, kenapa kau terlalu tertatih. bukankah kau siap patah berkali kali?
Selamat malam, kau yang ku sebut kekasih. Walau hanya sepihak dalam imajinasi.
Kau tak perlu takut, aku tak akan pernah melukai hati yang kau perjuangkan. Aku pun sebenarnya sedang diam. Aku lebih berani memaki dan mencibir mu serta memelukmu lewat senyap nya angin yang cuma numpang lewat.
kekasih,aku tidak tahu sedang menulis apa sekarang, aku rindu. Padamu yang sebenarnya tak pernah sedikit pun melihat ke arahku. Kekasih, katakan aku bodoh, dan memang aku bodoh. Mengapa aku bisa luluh padamu? bahkan kamu tak pernah mengerti dan mencoba menilik tiap puisi romantis yang kutulis di berbagai layarku yang sebenarnya hanya untuk dirimu, atau mungkin, kamu sadar dan tahu tapi kamu memang tidak peduli.
Ahh, aku lupa, aku siapa dan kamu siapa.
Aku hanya angin yang merindukanmu. Kamu adalah langit yang begitu tinggi,yang mungkin sama sekali tak bisa kuraih. Yah, sama sekali tidak bisa ku raih.. Sungguh bodoh, dan sungguh menyedihkan. Aku hanya rela di iris iris oleh mu tiap senyuman mu tertarik orang lain.
Langit, kamu begitu baik. bagaimana mungkin aku bisa marah padamu?
walaupun kamu telah membabat habis perasaanku, walaupun kau telah mematahkan hati kuberkali-kali.
Langit, kamu begitu dingin, bagaimana mungkin aku bisa menyapamu? untuk menatapmu punaku harus memicingkan mataku. Aku terlanjur takut melihat wajahmu.
Dan langit, kamu begitu abstrak sampai aku tidak tahu mengapa aku bisa terjatuh dalam dimensimu.
-ch-
Komentar
Posting Komentar