Mencintaimu dalam Diam?
Bismillahirrahmanirrahim.
Pagi tadi aku membaca tulisanmu
lagi. Lagi, hatiku bergetar akan itu. Seperti biasa, aku tidak punya alasan
mengapa hatiku terdorong membacanya. Setelah sekian lama,tak pernah melihat
sosokmu lagi, aku seperti terkurung dalam sebuah dimensi saat membaca tulisan
panjang itu.
Seperti di tulisan-tulisanku
sebelumnya, aku benar pertama merasakan hal ini. Perasaan yang entah apa
namanya. Karena aku yakin, perasaan mencintai yang sebenarnya hanya akan ada setelah
terucap namaku oleh entah siapa di depan orang tuaku kemudian diiringi “teriakan”
sah oleh orang-orang yang mengenalku di suatu hati, yang entah kapan akan
terjadi.
Semua orang mengenalku puitis. Mengenalku
dengan kiasan tersembunyi I balik larik puisiku yang entah mereka bisa
membacanya atau memang hanya aku mengerti maknanya. Semua orang telah menilaiku
dengan presepsinya masing-masing. Dan aku sebenarnya tidak mau peduli akan itu.
Tapi benar, otakku pun selalu menyuruhku untuk tidak memikirkan apalagi
mengkhawatirkan perkara dirimu yang tengah sibuk dengan kehidupanmu sendiri
“Untuk apa bertahan pada
ketidakpastian?”
“jika dia mencintaimu, dia tidak
akan membuatmu menunggu seperti ini”
“Untuk apa bertahan pada
seseorang yang tidak pernah mengajakmu bicara sama sekali”
“Untuk apa membaca tiap kata,
menunggu postingannya, mencari tahu kabarnya, jika untuk menyapa dalam nyatamu
pun kau tak bisa berbicara normal?”
“Mengapa kau terlalu sibuk
memikirkannya, sedang kau tahu, Allah swt telah menyiapkan seseorang yang
telah pantas untukmu, sebagaimana kau memantaskan dirimu saat ini”
“Untuk apa kau bertahan, dengan
sajak nama dalam doamu, sedang kau tahu, dia tengah mendoakan orang lain yang
menuntunnya ke arah yang lebih baik sampai saat ini”
“Mengapa kau selelalu berpikir ia
selalu mengarahkan matanya kepadamu?”
Ya, semua itu adalah bayangan
larik perkataan otakku pada hatiku. Aku paham, mengenai ketertarikan terhadap
lawan jenis adalah sebuah fitrah yang telah diturunkan oleh Allah Swt kepada
para hambanya yang lemah. Suatu ketika, aku merasakan hal itu dan benar, aku
tidak mengerti definisi mencintai dalam diam. Seperti yang biasa kupertanyakan,
bagaimana mencintai seseorang dalam diam tanpa turut mengkhawatirkan dan turut
memikirkannya? Bagaimana mungkin seseorang bisa menahan fitrahnya sebagai perempuan
untuk tidak jatuh hati kepada seseorang laki-laki?
Kau tahu, hatiku tergores ketika
membaca tulisanmu tadi. Aku paham, ada banyak manusia disekelilingmu yang bisa
saja membuatmu jatuh hati, dan aku memang jauh akan hal itu. Kau tahu mengapa
aku menulis disini? Karena beginilah aku, aku tidak punya seseorang yang bisa
kutempati berbagi selain pada Rabbku,disepertiga malamku saat sengaja aku
menyebut namamu. Nalarku selalu membenarkan, untuk apa berharap padamu yang
sudah jelas kutilik dengan mataku tentang kau yang mengagumi seseorang yang tak
lain adalah orang yang kini tengah dekat denganku. Sekalipun beberapa hari yang
lalu, aku memancingnya untuk mengakui hal itu tapi ia berkata ia tak punya
hubungan apapun dan perasaan apapun kepada siapapun. Aku paham akan hal itu,
begitulah memang wanita ketika tengah diserang virus merah jambu. Biasanya ada
yang akan dengan mudah meluapkan segalanya adapula yang cukup diam dan melihat
reaksi kedepannya.
Aku tidak pernah memikirkan
resiko ketika kamu telah membaca semua tulisan yang ada diblog ini. Dan
sebenarnya aku tidak pernah mau jika kelak kau akan membacanya.
Kembali ke pembahasan mencintai
dalam diam, sebenarnya aku sama sekali tidak paham dan merutuki diriku setiap
hari, ketika aku harusnya sibuk dengan kuliahku dan rentetan naskah yang harus
kuselesaikan, aku malah mencengangkan diriku di atas ketidakpastianmu, dan
melupakan bahwa Rabbku telah menyiapkan seseorang yang benar-benar baik
untukku, atau malah telah mempersiapkan kematian yang terbaik sebagai jodohku.
Mencintai dalam diam. Sebuah mekanisme
yang rumit di tengah kegundahan tiap insan di muka bumi ini yang terlalu
khawatir perkara jodoh. Mencintai dalam diam, kutuangkan semua ceritaku dalam
sebuah naskah yang sampai sekarang belum kuselesaikan karena tidak tahu
akhirnya akan menjadi apa. Naskah yang kubuat sendiri, dengan imajinasi tanpa
ada kalimat nyata yang kau ucapkan pada kau selaku tokoh utamanya. Mencintai dalam
diam, proses yang kulakukan di tengah hijrah ku kepada Rabbku, menyatakan cinta
yang entah ini adalah sekedar nafsu atau benar perkara fitrah tulus yang di
titipkan padaku dengan cara melantunkanmu dalam salatku.
Maafkan aku yang tidak pernah
meminta izin untuk tiap larik namamu dalam salatku. Hanya satu permintaanku,
aku memang manusia yang terlalu peduli tanpa mampu berbicara atau sekedar
mengirim pesan padamu. Karena nyatanya beginiah akudan dririku yang hanya mampu
menatapmu jauh dan melepaskamu dalam pengharapan yang diselingi penjagaan
Rabbku. Maaf karena air mataku yang sempat jatuh untukmu jika sekiranya para
malaikat mengutuk jalanmu, sungguh kusesali itu dan telah kuadukan Rabbku untuk
tidak melakukannya. Maafkan aku jika memang ini adalah sebuah cinta, karena tak
bisa kuungkapkan padamu hanya mampu kujelaskan pada bait doaku. Karena aku
tahu, dengan hijrahmu pun kau akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar
pantas untukmu.
Salam, semoga kita Bertemu di
Jannah-Nya kelak.
-Ch
Komentar
Posting Komentar