Apa Kau Mau Menjadi Temanku?


Selamat hampir malam.

Sebenarnya sama sekali aku tak berniat melukiskan luka yang benar-benar menhancurkan hatiku di sepanjang hampir tiga tahun ini.
Hari ini sebenarnya sebuah hari yang menyakitkan. Entah karena aku yang cukup gila untuk memendam perasaan atau karena aku yang terlahir sebagai seseorang yang selalu telalu membawa perasaan.

Aku mengerti, bagaimana sebenarnya kekuranganku dalam menyikapi sekitarku. Aku mengerti, mungkin saja ini teguran yang ALLAH SWT berikan padaku.

Tapi seandainya mereka semua tahu, bagaimana niatku yang kubangun sejak dulu. Andai saja mereka mau peduli padaku. Aku paham nasihat lama, “Semua orang mempunyai cara mengekspresikan kepeduliaanya masing-masing”.

Aku paham ketika semestinya aku harusnya menodong otakku sendiri namun aku keras kepala ingin memenuhi egoku.

Mereka semua tidak tahu apapun tentangku. Sedikit pun.

Everyone standing in highest then said “Trust me”, the anyone, others will come “Do not ever trust them”

Aku paham dan mencoba menelaah bagaimana seharusnya aku tidak perlu mempedulikan semuanya. Aku selalu mencoba, I have trying at billion times bagaimana aku bisa menjadi sesorang yang tidak peduli sekitar. Mereka semua tidak tahu, mereka bahkan tak pernah peduli dikeadaan aku jatuh sehancur-hancurnya. Mereka benar mencaciku dengan “You are alone, bibeh. Just go with ur problem. I don’t care, yah we don’t care, stop hope something that will hurt you”

Kau harusnya paham, ketika seseorang tengah merasa terabaikan bukankah harusnya kita mendekati bukan malah menjauhi apalagi memberinya kritikan pedas yang justru hanya dapat membuatnya semakin menjauh? Aku tak habis pikir, bagaimana dunia ini akan menjadi dunia yang penuh dengan ego dan sifat individualism.

Kau harusnya paham, sesibuk apapun kita pada dunia yang begitu besar, bukankah kita harus peduli terlebih dahulu pada dunia kecil kita? Tempat dimana kita memulai garis nol sebelum akhirnya menunjukkan dan mengompetisikan ego dan individualis kita?

Aku lelah. Semuanya hidup dalam lingkaran drama yang tak pernah berujung.

Aku merasa, benar aku terlalu perasa.

Memasuki tahun ketiga, aku benar merasa ingin berhenti.

Aku tak menuntut sebuah kepedulian yang berujung besar. Apakah kau paham ketika seseorang menudingmu dengan berkata “bekerja namun tak ikhlas” sebelum mengetahui pribadimu yang utuh.
Bagaimana kau bisa menceritakan dirimu kepada mereka sedang kau adalah satu satunya titik yang terlupakan ketika mereka ingin pergi bersama?

Bagaimana kau tidak bisa menganggap dirimu sebagai tempat sampah ketika mereka hanya hadir melemparkanmu cerita lalu meninggalkan mu saat kau butuh teman cerita?

Bagaimana kau bisa menolak ketika seseorang memang benar membutuhkanmu?

At the end, I hope they will realized. Somebody had go with their own self.

Aku seharusnya paham, tapi mengapa aku tak bisa paham? Aku tidak paham bagaimana aku harus bertahan ditengah gelombang batin yang menyiksa.

Apakah kau mau menjadi temanku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...