Selesai
Aku mencintainya.
Sebagai permulaan di tulisan yang sedang kau baca, aku mengakui bahwa aku mencintainya.
Di depan layarmu, akan kuceritakan bagaimana pahitnya jatuh cinta sendirian. Bagaimana aku berharap meski kutahu takkan ada asap tanpa api, meski kutahu tak mungkin aku jatuh sendiri. Meski kutahu, kamu pasti punya secuil rasa yang sama denganku.
Biar kuceritakan, meski tak seluruhnya, meski akan ada bagian - bagian yang mungkin sudah kau lupakan. Biar kuceritakan perihal aku yang jatuh cinta pada dia yang kutemui tidak sengaja, di Bumi Botta Toa yang indah, yang membuatku ingin bertandang kesana, sekali lagi untuk menghapus cerita tentang dia.
Aku mencintainya, di saat ia mengajakku ke gramedia tapi aku memilih untuk tidak membalas pesannya karena takut terlarut dalam perasaanku akibat telah sedikit bertengkar di malam sebelumnya karena lelah dengan hubungan yang begitu - begitu saja dan berujung pada dia yang akhirnya kubiarkan berkeliling sendirian.
"Maaf kak, baru pegang handphone" balasku bohong.
Aku mencintainya, di saat ia melajukan motornya di hari yudisiumku, lalu kembali mengarah ke rumahnya setelah memberiku sebatang coklat yang tak berarti apa - apa, mungkin, untuknya.
Aku mencintainya, di saat aku berkunjung ke kotanya tanpa memberitahunya lalu ia datang menemuiku, memberiku sebongkah buah naga "baru kupetik, dan langsung kesini, harusnya bilangki' kalau mau kesini lain kali, kalau tidak ngehka tadi liatki nda ketemu mki" ucapnya dengan tanganku yang memberinya sebotol kopi instan yang baru kubeli semenit sebelum ia tiba - tiba menelpon mengatakan bahwa dia ada di pertigaan lorong rumah tempatku menginap.
Aku mencintainya, di saat aku marah karena dia minta dibuatkan puisi padahal aku sudah membuat jutaan puisi untuknya tapi dia tidak merasa, atau jangan - jangan hanya pura - pura tidak merasa.
Aku mencintainya, di saat aku kembali pulang ke kotaku sehabis wisuda kemudian dia bersikap dingin karena lupa kukabari bahwa aku telah sampai di rumah.
Aku mencintainya, di setiap momen saat aku bersamanya. Aku mencintainya sampai aku tidak sadar apa aku ini pelarian saja atau bukan, apa jangan - jangan hanya mengisi sepi-nya saja atau memang hal yang dia butuhkan.
Aku mencintainya, dengan seluruhnya, dengan ucapan selamat pagi di setiap pagi sebelum aku bekerja, dengan cerita - cerita perihal keluarganya, perihal anak walinya yang bandel, perihal hari ini eps AOT sudah tayang atau belum, dengan emoji pemutus percakapan yang kemudian akan membuatku meringis setelahnya
Aku mencintainya, dengan jarak yang akhirnya tidak bisa ditempuh dengan semalam untuk bisa bertemu dengannya, kunikmati setiap kata lewat pesan di setiap harinya, lalu perlahan hilang dengan dalih "Lumayan sibuk dek di sekolah banyak kegiatan"
Aku mencintainya, dengan teramat sangat sampai menutup diri dari manusia yang ingin turut menuliskan cerita, dengan rasa percaya bahwa semua hubungan hanya perlu komunikasi saja, percaya saja.
Aku mencintainya
Sampai pada saat aku mengerti bahwa dunia ini tak semua hal butuh jawaban, atau jangan - jangan diamnya pun adalah jawaban. Jawaban berupa penolakan, jawaban berupa semestinya perasaanku tidak boleh terlalu lama, harusnya tidak mesti selalu kubawa.
Aku mencintainya.
Dalam tiga tahun ke belakang, dalam jemari manis yang kini telah melingkar cincin ikatan menuju pernikahannya.
Aku mencintainya.
Kuharap bisa sampai disini saja.
Aku mencintainya dengan air mata yang kembali membasahi pipiku saat menulis kata demi kata di tulisan ini.
---
Iya.
Seharusnya aku bisa berhenti menulismu.
Kekasihmu akan marah besar jika mengetahui tulisan ini kutujukan padamu. Tapi biar kupastikan, semoga, semoga saja ini tidak pernah sampai di retinamu.
Aku mencintaimu, untuk terakhir kali.
Aku mencintaimu, kini tidak lagi.
Komentar
Posting Komentar