Rumah Tua

 -pada suatu masa. 





Di suatu masa aku bergerak mencari satu tempat yang kudamba - damba. Meski di dalam hatiku tidak kutemukan alasan yang pasti untuk menetap, akhirnya kucoba untuk berjalan dan memasuki satu per satu rumah. Tidak kutahu, nama pemiliknya, pun dimana aku harus meminta segelas air putih untuk melepas dahaga. 

Ternyata, aku mendapatkannya dari tubuh seorang perempuan yang tidak kutahu siapa, kutemani saja ia bercerita perihal mimpi - mimpi ku untuk membuat rumah ini terlihat indah, kujelaskan bahwa aku ingin memasang cermin, sebuah rak sepatu untuk sepasang demi sepasang yang mungkin menjadi tamu berikutnya di rumah ini, seperangkat alat masak, juga seperangkat alat makan tentu saja. 

Di sela - sela rencanaku, aku keluar sebentar dari rumah itu berjalan sekitar 5 meter dan memasuki ruang yang baru, sama, sama - sama dengan rumah sebelumnya aku memasukinya. Kondisinya sama, yang berbeda cuma penghuni di dalamnya sudah banyak pun barang - barang di dalamnya sudah lebih modern di banding rumah sebelumnya. Sempat kulirik kembali bangunan yang kurencakan itu, tapi kakiku juga melangkah ke rumah yang baru. Semakin menarik, semakin kutilik lebih dalam ternyata rumah ini sangat mewah, meski di dalam hatiku merindukan bangunan tua dan mimpi untuk membeli perabot kutepis saja sedikit demi sedikit. "Pasti ada orang lain yang datang ke sana, tidak perlu pusing" ucapku dalam hati.


Kulangkahkan kakiku keluar dari pintu rumah megah ini, berniat menghirup sedikit udara di luar. Sejenak kulirik kembali bangunan di samping, perempuan yang kemarin memberiku segelas air itu menatapku, bibirnya tersenyum. Iya, hatiku sedikit teriris, mungkin senyumnya adalah senyum tagihan akan janji - janjiku untuk membelikan perabot. Tanpa tersenyum, kulangkahkan kakiku kembali ke dalam rumah mewahku, menikmati setiap inci kemewahannya, aku lupa, terlena, sungguh. Di dalam hatiku sebenarnya terbesit luka dan sesal akan kelakuanku saat ini. Tapi kutepis saja sebab apa yang kudapatkan jika keluar dari sini? Apa yang kudapatkan jika kembali ke rumah tua itu? Apa hanya segelas air putih? Maka baiknya aku disini saja, di atas springbed king-size yang membuatku bisa berguling - guling sepanjang waktu. 


---

Hari demi hari berlalu, tiba niatku untuk menjenguk perempuan itu. Sekadar menengoknya mungkin. Keluarlah tubuhku dengan syal di leher karena cuaca hari ini sungguh sangat dingin. Sejenak kupikir apa di rumah itu pun tersedia penghangat ruangan? Jangan - jangan perempuan itu sudah mati kedinginan di dalamnya. 


Aku tiba. 

Baru di depan pintu. 

Perempuan itu keluar sebelum aku mencapai engsel untuk membuka rumah tua itu. 

Ia tersenyum, lagi. 


"Apa kabar?" ucapku

"Baik, selalu baik" balasnya. "Aku tidak akan menanyakanmu kembali, keadaanmu sungguh sangat baik kecuali matamu" lanjutnya

"Ah iya, aku kurang tidur" ucapku asal. 

"Tentang janji - janjimu, aku tidak akan menuntutnya" ucapnya seolah membaca pikiranku. 


Tangannya menengadah berisyarat untuk menyuruhku masuk. Aku baru ingat, dulu aku kesini hanya sampai di ruang tamu dan kamar yang ia beri untukku, tak sedikitpun melihat bagian rumah yang lain.

Kuberanikan diri menginjakkan kaki pertama kali ke dapur. Tempat perempuan itu menyendiri, ya pikirku seperti itu. Ternyata tidak. Banyak manusia lain yang sedang memasak di dalamnya, dia tidak sendiri, iya ternyata aku yang menutup diri, ada banyak manusia di rumah ini. Mereka tertawa, dengan mata yang normal, tak seperti mataku yang mulai buram. Mereka juga ada yang menangis, lalu sebagian yang lain mengusap punggungnya. Dapur ini lebih luas ternyata, sangat, sungguh sangat luas dibanding dengan ruang utama tadi. 

Cermin, rak sepatu, alat masak, alat makan, bahkan mesin cuci tertangkap oleh netraku. Aku menunduk, malu. Sungguh. Perempuan itu tersenyum, "kamu kembali, tanpa alasan kan? kalau kamu khawatir karena cuaca dingin, tenang saja, kami memang tak punya penghangat ruangan, tapi kami tidak kedinginan karena kami saling menghangatkan" ucapnya dengan mata yang menunjukkan ketulusan hatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...