Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Capek

 Malam begitu dingin. Kurasa, semakin hari tubuhku mulai lelah dengan segala macam kisah - kasih duniawi. Langit - langit kamarku mungkin tertawa melihat siklus kehidupanku yang begitu - begitu saja setiap hari...

Kumohon

Titik - titik yang kuberi pada tiap kalimat itu rasanya tidak berarti lagi. Entah sejauh apa aku kini, terbawa oleh luapan emosi yang kucipta sendiri. Sejenak aku menyadari bahwa seharusnya aku tak perlu sejauh ini, seharusnya waktu berhenti sejak kau pergi. Aku lupa bahwa kamu adalah jelmaan. Jelmaan dari tiap khayal yang kubuat dan kutata dengan sedemikian hebat. Kuharap ada dalam nyataku padahal hanya dalam mimpi - mimpi indahku. Aku harusnya berhenti sekarang, bahkan harusnya berhenti sejak lama. Entah kenapa menjadi dua orang asing begitu menyakitkan, padahal awalnya pun kita hanya dua orang asing yang bahkan tak berencana untuk menimang - nimang kata "bersama".

lepas

Jejak kaki kita apakah benar telah terhapus ? Tak nampak lagi di pelupuk mataku pun ingatanku perihal kamu dan aku. Apa sudah layak untuk sebuah perayaan mati rasa-ku ?

lukalama...

Fotonya kini sudah usang. Benar bahwa harusnya yang lama tak perlu ditoleh lagi. Sedari tadi jariku menilik hal - hal yang sudah lama, pesan lama, foto lama, pun ingatan - ingatan lama. Aku selalu ingin membuatnya jelas, bahwa dia hanya pergi sebentar, sedikit lagi pulang. Tapi kenyataannya dia sekarang bersamanya, tak mungkin pulang. Bukan, dia sudah pulang, di tempat seharusnya, bukan disini, tapi disana. Aku selalu dan terlalu ingin membuatnya jelas, hingga masanya adalah kini kau adalah dia, dia adalah kau. Kenangannya terlalu banyak untuk dilupa begitu saja, meski telah bertahun lamanya. Meski jemari kini sungkan mengirim pesan. Meski kini series kesukaan kita sudah berakhir musimnya, meski cerita - cerita rumit kini tak lagi bisa kuceritakan, meski puisi - puisi cinta tak bisa lagi kukirimkan, aku nyatanya masih diam. Entah sampai kapan... Kutilik lagi sebentar, foto profile-mu yang kini berdua dengannya. Haha. Aku cemburu, tentu saja. Tapi itu tak perlu, tak perlu untuk kau tima...

larut

Bicara soal perasaan yang telah larut terlalu jauh. Tak terasa waktu berlalu, Bulan Maret telah sampai lagi di hadapan mataku. Sejauh ini, sejauh aku berlari, sejauh aku menahan semua pedih, ternyata aku masih sebegini. Kurasa bahwa banyak di sekitarku tapi aku masih berada disini, di Bulan Maret yang dulu sangat kunanti tapi kini malah menjadi saksi betapa hancur dan perihnya ditinggal pergi. Harusnya kita paham. Bukan. Harusnya aku yang paham, bahwa hal yang sudah kita tahu resikonya, lebih baik tidak usah dimulai saja. 

Harusnya menguatkan kita...

 Semudah itu, ternyata. --- Aku kemudian menerka - nerka di antara ribuan sengaja yang kucipta. Pertemuan - pertemuan yang kemudian kubiarkan jatuh sesukanya pun sembuh sekenanya. Aku kemudian menerka - nerka, jikalau waktu pun berulang, jikalau tak perlu kutahu perihal tanda baca yang kau kirimkan, jikalau kau dan aku tak perlu bercanda perihal hubungan yang tak beralasan. Aku kemudian menerka - nerka perihal jemariku yang tak bisa lagi mengirim sebuah kata, apa benar kita cukup sampai disini saja ? apa jatuh kita adalah sebuah luka ? apa jatuh kita adalah sebuah kebetulan yang disengaja? Benar saja. Sepaket di antara bahagia dan luka. Sepaket di antara senang dan sedih. Sepaket di antara bersama dan tak bersama. Sepaket di antara kau dan dia. Sepaket yang tak akan berulang, sepaket yang kemudian tak mungkin kita rangkai lagi sama - sama. Kau datang lagi, seolah tak ada apa - apa. Kau datang lagi, seolah kita masih bisa sama - sama. Cuacanya begitu dingin, sedingin hubungan yang t...