Terka

Aku selalu menunggu kelanjutan ceritanya.


--

Hari demi hari berlalu, jalan setapak itu tak berubah, rute-ku pun sama. Satu - satunya tujuanku saat ini cuma bertahan hidup. Kalau kutambah satu, mungkin itu adalah bertemu denganmu. Setelah bertahun - tahun tidak melihatmu rasanya memang seperti biasa saja. Semuanya berjalan begitu - begitu saja.


Ketika menulis ini, aku sebenarnya tengah memikirkanmu. Di tempat yang jauh itu, apa kamu memang masih mengingatku ? Apa benar aku ada dalam opsi tujuan hidupmu ? Apa jangan - jangan aku terlalu menduga semuanya secara berlebihan ? Haha, benar. Aku terlalu banyak tanya. Padahal semestinya, aku bisa - bisa saja menjalani kehidupanku secara sederhana, tanpa kamu. Kuralat. Seharusnya aku menjalani kehidupanku secara sederhana, tanpa kamu.


Hari berlalu, sepersekian detik tanpa menunggu aku untuk membuka hati kepada orang yang baru. Alih - alih membuka pintu, justru membatu karena trauma di masa lalu. Kalau diingat - ingat, harusnya memang tidak boleh seperti ini. Harusnya aku bisa mengerti. Harusnya aku menjalani kehidupan normal seperti teman - temanku. Menikah dan punya anak. "Jangan terlalu pemilih". Katanya. Tapi bagaimana mungkin tidak "memilih", makan-ku saja pilih - pilih apalagi manusia yang kemudian akan kuajak tertawa seumur hidup ? 


Tunggu.



Tunggu.



Tunggu.


Kenapa tiba - tiba menulis hal seperti itu?

Apa aku benar jatuh cinta padamu?

Bukankah kita terakhir bertemu sudah jauh di tahun - tahun kelembagaanku itu?

Apa yakin jatuh cinta hanya karena Direct Message di Instagram itu?

Wah..

Aku mungkin memang sudah tidak waras.


Kalau begitu, sampai nanti. Nanti aku cerita lagi.

Apa kamu mau menunggu kelanjutan ceritanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...