....
Kamu akan tetap menjadi tokoh utamaku.
Kamu akan tetap menjadi dia. Setidaknya setelah kapalmu bertengger di pelabuhan kota yang kau jadikan tujuan. Setelah ucapmu terikrar pada sebuah ikatan yang tak mungkin kulepaskan.
Terang saja, semua gelap - gulita perihal aku yang menunggu kamu tidak perlu menjadi soal rumit yang akan kau pelajari untuk pecahkan. Toh nyatanya kita tidak bisa sama - sama. Ternyata arahnya berbeda. Ternyata tuju kembalimu hanya sebuah kabar akan cerita bahagia yang kau tulis dengan pena hitam yang kuberikan. Ternyata kopi hitam buatanku bukan tujuan akan bangun pagimu yang tergesa - gesa. Ternyata dering pesan favoritmu hanya sebatas kicau saja.
Kamu akan tetap menjadi tokoh utama. Kamu akan tetap menjadi dia yang setia kubuatkan cerita. Cerita tentang titik - titik malam yang menunggu aku pulang pada lelapnya mata di pinggiran ranjang sebuah ruang. Kamu akan tetap menjadi dia yang selalu kutanyakan apa aku mengganggu atau tidak, apa kamu sibuk atau tidak, apa kamu adalah aku atau bukan. Kamu akan tetap menjadi alasan. Alasan akan tiap tawa - tawa lucu di setiap malam, yang menggeliat akan deru napas tak beraturan, alasan akan tumbuh untuk tetap hidup demi senyum dengan manik mata hitam yang kudambakan.
Akan tetap menjadi dia. Tokoh utama yang tak pernah ingin kugantikan. Setidaknya akan terus kunantikan, sampai kapalnya benar bersandar di pelabuhan yang lain di sana.
Komentar
Posting Komentar