Panggung Sandiwara

Sejatinya mungkin memang "belum" berarti apa - apa. Dunia dan seisinya ini cuma sebuah panggung, berdasar aku-lah pemeran utamanya, tapi terus - menerus menggertak diri agar sadar bahwa "dunia ini isinya bukan kamu doang". 

Naasnya, dunia ini tengah dikepung oleh orang - orang yang hanya memikirkan materi dan ego sendiri. Enggan berbalik, maksudku enggan menoleh ke belakang, melihat - lihat apa yang seharusnya kuperbaiki, apa yang seharusnya kujadikan tumpuan agar dunia ini tetap berdiri tegak dan akhirnya bisa maju selangkah demi selangkah.

Katanya, anak muda punya ribuan cerita di dalam kepalanya yang sangat rugi jika cuma-hanya dijadikan cerita di dalam kepala. Padahal nyatanya, tak ada keleluasaan untuk mengekspresikannya, terkekang, penuh aturan, penuh ini-itu riuh suara dimana-mana. Justru dianggap aneh, justru memandu pikiran - pikiran negatif sebagai hal yang dituju.

Ego sendiri harusnya dimakan oleh hormon - hormon dalam tubuhmu sendiri. Bukan menumpu pada raga orang lain. Kasihan sekali rasanya, menenggelamkan apa yang ada di dalam benak orang lain. Tatkala kau bilang A, selanjutnya B, selanjutnya kurampungkanlah cerita tentang si B yang kau haturkan, dan di akhir singgahsana yang kau inginkan adalah Si A kembali. Rasanya cerita dongeng sebelum tidur lebih indah walau tak mengerti akhir cerita dibanding kau tarik ulur hati orang lain sebab egomu yang kau beri makan setiap hari.

Benar rasanya, yang kurasakan kini adalah aku adalah sebuah peran utama di atas panggung yang diciptakan oleh Tuhan. Naskah-Nya belum kubaca ulang, sebab semuanya harusnya berjalan sesuai dengan takdir-Nya, masalah hari ini dan hari kemarin pasti ada jalan-Nya. Benar yang kurasakan bahwa di hadapanku sekarang mungkin hanyalah tokoh - tokoh pembantu yang diciptakan agar aku bisa sabar. Tuhan selalu menciptakan segala-Nya akan sebuah maksud, kan? Tidak ada yang sia - sia, seburuk apapun kita.

Ya, dunia ini sekali lagi panggung sandiwara saja. Mungkin baiknya memang mengalah, mungkin takdirnya memang kalah, mungkin ini akhirnya. Toh yang kalah belum tentu mati, kan ? Nuraninya, dan juga - otaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...