Needed.
Malam ini sepi.
Harusnya aku sibuk mengerjakan pekerjaanku yang sudah berteriak sedari pagi. Padahal aku sudah berjanji untuk mengerjakannya malam ini, ada apa denganku ?
Apa aku merindukanmu lagi ?
Mungkin nyatanya memang begitu, ya.
Hari demi hari aku berjalan sendiri. Kupikir selama ini sendiri akan tetap membuatku baik - baik saja, kupikir sepi adalah temanku yang selalu kudamba. Ternyata tidak, ya ternyata aku sangat sulit merelakan semua puisi - puisi yang kutulis untukmu. Aku kembali mengira - ngira, mengapa aku tidak bisa membuka hatiku pada orang - orang yang ternyata bisa menerima semua kekuranganku, katanya. Mengapa cerita kita yang harusnya sudah kurelakan justru selalu kembali terngiang di dalam kepala. Mengapa jatuh padamu selalu menjadi alasan aku menutup semua luka.
Berat sekali,
Rasanya kepalaku mau pecah sekarang juga. Berat sekali, berat sekali rasanya menjalani hari - hari. Rasanya sepi sekali, rasanya aku ingin mengirim pesan padamu ribuan kali, rasanya aku ingin memaki dirimu yang tidak pernah mengerti, rasanya ingin meluapkan semua emosiku padamu.
Maaf,
Maaf harusnya tidak seperti ini.
Maaf harusnya aku tidak sejauh ini.
Selebihnya mungkin akan terus terasa, aku yang selalu berusaha menujumu, dan kamu yang tidak kutahu dimana dan sedang apa. Aku tidak mau menyalahkan jarak lagi, menyalahkan ego-ku untuk bertahan seperti ini justru pilihan yang tepat, kan ? Tapi katamu, aku tidak boleh menyalahkan diri.
Kesibukanku kembali membantu aku yang berusaha lepas darimu. Meski kadang kalau aku selalu ingin bercerita satu atau dua atau bahkan ribuan kebisingan yang ada di kepalaku padamu.
Aku cuma butuh teman cerita, ya ? Tidak begitu.
Aku butuh kamu.
Iya, aku cuma butuh kamu, kurasa begitu.
Komentar
Posting Komentar