Masih
Lama sekali aku menghilang dari blog ini. Terakhir kapan, ya?
Malam ini aku cuma mau cerita, tokohnya masih sama dengan seseorang yang terakhir kuceritakan disini, rasanya aku hanya mengulang cerita, ya. Hehe...
---
Aku jatuh cinta pada seseorang yang belum kukenal lama, seseorang yang baru kuajak bicara panjang secara langsung cuma satu kali, iya satu kali, selebihnya hanya ada komunikasi lewat tulisan yang juga tak setiap hari. Rasanya nyaman dan aman meski hanya dalam tangkapan layar, namun ada juga rasa takut kehilangan.
Bahagia, rasanya.
Tenang, aman, dan nyaman.
Hadirnya waktu itu membuat hidupku seraya berwarna, perlahan detik demi detik, aku bahkan rasanya tidak tega meninggalkan handphoneku, sungguh. Tiap detik pesan yang masuk kuharap adalah pesannya. Sampai pada akhirnya, aku memutuskan mengubah notifikasi karena beberapa kali mengira pesan yang masuk itu adalah pesan darinya, padahal dari orang lain. Iya, seberharap itu. Aku seberharap itu menjaga komunikasi dengannya, agar lost contact tidak terjadi sama sekali. Aku tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Aku ingin bersamanya, perasaan ini kurasa memang sudah berlebih tidak seperti perasaanku pada orang-orang yang sempat singgah meminum secangkir kopi lalu pergi dan kini memasuki rumah yang lain.
Kemudian tiba-tiba,
Di sela-sela cerita jatuhku itu, tiba-tiba aku dipatahkan oleh satu kenyataan, entah benar atau tidaknya bahwa dia yang kucinta itu sudah berpunya...
Aku tidak tahu, tapi sepertinya mereka sudah lama. Naif memang, aku tidak berbohong bahwa malam itu aku patah sepatah-patahnya, aku hancur sehancur-hancurnya. Kembali kuingat bahwa yang menyakitiku adalah memang diriku sendiri. Aku berharap, terlalu berharap.
Aku bahkan akhirnya memutuskan untuk memblokir whatsappnya waktu itu. Aku marah pada diriku sendiri, aku marah kenapa aku harus bertemu dengannya, kenapa aku harus menjadi bagian dari cerita yang sebenarnya aku adalah penulisnya dan aku yang bisa menentukan alurnya untuk tidak bertemu apalagi berharap padanya. Aku marah, sungguh marah.
Selang beberapa waktu, aku memilih untuk mendiamkan diri. Kubuka kembali Blokiran itu. Rasanya childish sekali, kan? Memang. Aku sadar itu, padahal yaa dia mungkin memang tidak salah. Dia mungkin memang baik pada semua orang. Aku yang salah mengartikan, aku yang membumbui diriku akan harap-harap yang seharusnya tidak boleh ada.
Aku tidak tahu kalau pada akhirnya kamu akan membaca ini atau tidak, semoga saja tidak. Bahkan buku itu, kuharap tidak akan pernah sampai padamu. Buku puisi yang kuatur sedemikian rupa agar kamu membacanya, nyatanya setelah terbit aku malah kembali takut jika kemudian kamu membacanya. Aku tidak mengerti, sangat tidak mengerti. Sebab sampai detik ini, sekali lagi, perasaanku masih sama, perasaanku masih sama menyayangimu, perasaanku masih sama ingin melihatmu, ingin bertemu denganmu, ingin berbincang lebih lama denganmu, ingin melihatmu bahagia...
Tapi sayang, aku juga tidak mau dicap sebagai penganggu hubungan orang lain, sedari itu kucoba untuk mundur, perlahan, meski sampai detik ini aku tidak mampu. Tenang, aku tidak akan merebutmu, kapanpun itu, aku sadar bahwa ternyata benar, perasaanku ini sepertinya harus segera kurelakan ...
Hari ini aku berniat menulis buku kedua, dan rasanya nyawanya masih sama.
-ch-
Makassar, 13 Desember 2020.
Komentar
Posting Komentar