Begini - Begini Saja
Menjelang malam tulisan ini kutulis, dengan jemari yang kembali merasakan pedihnya hati yang teriris...
Perasaan-perasaan yang kuungkapkan itu rasanya sia-sia. Kita masih begini-begini saja. Bukan, aku hanya ingin satu titik perubahan setelah semua rasa itu akhirnya sudah sampai padamu meski bukan dari mulutku langsung, termasuk perpisahan. Iya, aku lebih memilih kita memasing-masingkan diri daripada terus berkomunikasi yang pada akhirnya hanya membuatku memupuk harapanku melulu.
Aku tidak mengerti dengan sikapmu, dengan semua hal termasuk tatapanmu malam itu. Aku tidak mengerti mengapa kita bisa sejauh ini, mengapa kita harus saling mengucapkan selamat pagi, mengapa aku harus khawatir, mengapa aku harus memikirkanmu hampir setiap hari.
Aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku, aku hanya ingin tahu apa kau memang benar telah punya kekasih? Apa benar kau tengah menjaga hati? Apa benar aku sama sekali tak ada dalam ruang hati yang kuharapkan itu?
Aku hanya ingin tahu,
Bagaimana bisa perasaanku ini bisa berlabuh padamu, bagaimana bisa seseorang yang irit kata sepertimu bisa membuatku luluh, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seseorang yang belum kutahu persis latar belakangnya, belum kukenal lama, belum kutahu banyak tentang hidupnya ...
Iya, aku mencintaimu. Apa buku itu tidak cukup memberimu penjelasan tentang perasaanku? Apa tidak ada tergetir sedikitpun dalam hatimu? Apa aku memang tak pernah kau anggap ada dalam hidupmu?
-ch-
Makassar, 25 Desember 2020
Komentar
Posting Komentar