Menjawab.

Kalau ditanya kenapa bisa sejauh itu, aku tidak bisa menceritakannya dengan jelas. Sajak untuk jatuh pun rasanya aku tak pernah menduga. Pertemuan yang seharusnya tidak pernah dinanti-nantikan itu malah menenggelamkanku pada pahitnya harap jika aku berusaha mengingat mengapa aku berlagak begitu memilikimu. Aku malu, sungguh. Jika kuingat derap langkah dentum jantungku yang bergetar pada tiap perhatian yang dituang pada setitik pesan, pada bait cerita harimu, pada senyuman yang kutahu melingkar dalam anganku. Aku sangat malu, sungguh.

Kalau ditanya mengapa bisa sejauh ini aku tenggelam dalam dimensimu, aku tidak punya jawaban apa-apa. Selain rasa yang semakin mengikat sekujur tubuhku yang menggigil karena tak bisa berkomunikasi denganmu, selain rasa rinduku padamu, selain harapan bisa bertemu lagi denganmu.

Kalau ditanya sedalam apa perasaanku, aku juga tidak bisa menjawab setitikpun tentang perasaanku. Sebab rasa tak biasa ini baru pertama kali menghujam nadiku, memaksa tiap deret dendrit itu mengakses jalan bebas, menuang segala ekspresi agar kau melihatku, meniti tiap-tiap huruf dan emojimu agar bisa mengartikan rasa rinduku. 

Lantas, setelah sekian lama, apa kau tak rindu padaku? Apa tak ingin mengajakku bertemu? Apa kita memang cukup sebatas itu?

-ch-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...