Aku Menyukaimu

Kepada senja itu, aku berbisik, beberapa menikmatimu, menyukaimu dengan amat dalam, mengabadikan tiap momenmu dengan tenang. Hanya aku, yang memandangmu dengan remah rayu tak bernada, dengan kias kata tak bermakna...
Kepada senja itu, aku berbisik, aku menyukai salah satu penikmatmu, yang berhasil membuat jatuh hati, yang berhasil membuatku merasa memiliki padahal tak pernah berbicara panjang dan mewarnai hari...

Aku
Mewarnai hariku sendiri, menghiasinya dengan senja yang dia sukai, membuatkannya puisi dalam kepalaku yang tak ingin aku tulis karena takut akan kehilangan yang berujung patah hati.


Aku menyukaimu pada pertemuan yang tidak kita sengaja

Pada hari-hari yang tak pernah terpikirkan, pada sekian praduga-praduga orang-orang, aku bertemu seseorang. Secara fisik, mungkin tidak seistimewa banyak orang. Beberapa hal yang kami ceritakan bersama, seperti telah mengenal lama padahal baru sebentar. Anehnya, untuk orang-orang yang mengenalku dengan baik pasti paham, tak ada seorangpun yang baru kukenal sudah ingin kutulis menjadi satu paragraf manis.

Hal-hal sederhana, unik, dan misterius miliknya membuatku kembali, menyukai senja yang dia sukai, menyukai yang tenggelam pergi, menyukai yang indah namun sementara, yang berjanji akan datang setiap hari.

Dia mungkin saja merasa, mungkin tidak. Mungkin juga akan membaca ini, mungkin juga tidak. Sepertinya, dia tidak suka membaca. Hehe.

Pertemuan itu benar-benar tidak disengaja. Kemudian dilanjutkan oleh semesta yang membuat sekian banyak kebetulan. Aku sempat beberapa kali kagum, pada seseorang, kemudian beberapa kali menghilang. Aku bahkan mengakui sempat menulis banyak puisi untuk beberapa orang. Tapi kali ini, Aku bisa merasakan bedanya, rasa, dan mungkin ini yang dimaknai orang-orang sebagai kata "nyaman" atau malah mengarah ke "Jatuh Cinta" bagi sebagian orang. Sebenarnya aku sangat takut untuk menggunakan kalimat itu. Ini terlalu cepat.

Pertemuan ini benar-benar tidak disengaja. Pun sebenarnya tidak seintens itu kami berbicara. Tapi entah kenapa, rasanya berbeda saja. Sebenarnya, aku juga tidak tahu tengah menulis apa. Hanya ingin mengatakan, pertemuan tidak sengaja itu, percakapan kita itu, dan semua tentang kesukaanku akhirnya bisa membuatku jatuh. Entah benar-benar terjatuh atau mungkin saja aku juga merasa kagum seperti orang-orang yang hadir sebelummu.

Kepada semesta, yang mempertemukan secara tidak sengaja, terima kasih. Pada jelajah yang kian tak kumengerti, akhirnya aku bisa memaknai beberapa kata yang selalu dingiangkan oleh teman-temanku yang patah hati.

Kepada semesta, terima kasih, meski mampu kutarik tak jelasnya yang sedang kujalani, meski tak sesering orang lain berkomunikasi, akhirnya bisa kumaknai kata nyaman yang disebut oleh teman-temanku yang tengah jatuh cinta.

Padahal, padahal hanya lewat sendauan beberapa kata.
Padahal, padahal mungkin saja dia memiliki belahan jiwa. Tapi mengapa berani sekali berucap bahwa aku sedang jatuh cinta? Apa memang itu yang dimaknai jatuh cinta?

Terlalu tiba-tiba bertemu, tiba-tiba jatuh, tiba-tiba rindu, semoga tidak tiba-tiba luka, tiba-tiba kecewa.

Kepada semesta, katakan padanya jangan berlalu terlalu. Aku takut pada tiap kata yang sederhana yang membuatku jatuh itu ternyata tak berpihak padaku. Katakan padanya tentang pertemuan yang sama sekali tidak kuinginkan itu menjadi hal yang paling kuingini hari ini ketika ternyata benar dia yang akan menjadi teman dalam menjalani hidup di tempat-Mu ini..

Katakan padanya, aku mulai merasakan hilang. Padahal tak terikat, padahal namanya masih bisa kulihat di dalam layar.
Katakan padanya, beberapa pertanyaan yang kini menghiasi kepalaku, 
Untuk apa pergi ?
Apakah biar kucari?
atau justru agar tak lagi datang menghampiri?

Kepada Semesta, katakan padanya yang tengah merasakan kekacauan ini, jangan sampai akupun hilang dan kau turut merasakan kehilangan.

Aku menyukainya, benar, aku menyukainya. Tapi bukan dengan alasan senjanya, aku menyukainya tanpa alasan yang jelas, yang kutahu aku jatuh cinta kerap kali kubaca ceritanya, kubaca tentangnya, yang tengah bercerita tentang dirinya.

Terima kasih, setidaknya dengan hadirmu, aku bisa menulis satu puisi baru.
Terima kasih meski tanpa izinmu, kali ini aku benar-benar menulis suatu kalimat untuk seseorang.
Karena itu, dengan ini aku meminta izinmu, izinkan aku menjadikan kamu nyawa dalam tiap tulisanku, kelak jika memang bukan kamu atau aku menemukan orang yang baru aku akan kembali mengabarimu, lewat puisiku, lewat tulisan-tulisan yang saat ini nyawanya adalah kamu.

Satu lagi,

Kepada senja itu, aku menyukai salah penikmatmu, beritahu padanya saat dia tengah memandangimu -ch-

Kalukku 16 Mei 2020. 00:00 WITA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...