IPku Tidak Sampai 3.0, Tidak Apa-Apa, kan?


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ...

Random sih tulisan yang ada di blog ini. Hehe..

Pagi ini mau bahas IPK. Padahal harusnya siap-siap buat ikutan MUMAS XXX HIMABIO FMIPA UNM.

Sedang trend di twitter plus sedang trend juga MUNGKIN di kalangan jurusanku, soalnya junior-junior pada nanya IP ke saya.

Beberapa teman bahkan dosen memang sempat mengira saya berIP dan berIPK tinggi sih..
Padahal ketahuilah teman-teman, sayapun pernah merasakan IP gak nyampe 3.0..

Di Jurusan saya standar kelulusan itu indeksnya dapat C sudah lulus. Dan kalau mau jujur saya sih rasanya susah sekali dapat C itu. Makanya saya kalau sudah dapat C udah gak ngulang, meski disaranin sama pembimbing akademik buat ngulang udah nyerah duluan. Sadar diri dan merasa sebenarnya sudah dapat ilmunya, entah kenapa nilainya seperti itu, ya mungkin karena memang ada banyak nilai-nilai yang lebih tinggi di angkatan atau di dalam kelas. Di Jurusan bisa ngulang kok, kalau mau. Cuma akhir-akhir ini Saya lihatnya manusia lebih banyak memilih protes ke dosen daripada ngulang. Keren juga ya manusia jaman sekarang. Hehe. Bahkan untuk nilai B+ pun ditanyakan. Mantap deh.

Meski banyak yang tak percaya, mungkin harus lampirkan KHS ya disini, sayapun kaget waktu itu IP gak sampai 3.0, gila sih, shock sendiri, kecewa juga tapi yaaa
Kita manusia memang senang sekali ya berekspektasi tinggi jatuhnya kecewa. Tapi kalau urusan IP sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan. TIDAK TERLALU ya bukan TIDAK SAMA SEKALI. Mungkin karena saya memang tidak terlalu pusing akan nilai meskipun yaa nilai itu penting. Penting sekali untuk administatif..

Sampai pada titik semester 7, Saya sadar sebenarnya attitude kan memang lebih penting, dan ya memang attitudeku pada zaman itu mungkin memang tidak baik jadilah IP gak nyampe 3.0. Downnya parah banget, sempat mikir ini gara-gara organisasi kali ya?
Tapi, ternyata memang bukan. Organisasi yang latih biar gak gampang jatuh begitu aja diterpa angin hilang. Yaa kalau jatuh diperbaiki lagi..Dinaikin lagi IP di semester selanjutnya, Belajar lebih lagi. Dan I'm done it, belajar, doa, akhlak ke teman, ke dosen, ke senior, ke junior, ke ibu kantin, ke pembersih kampus, semuanya dah, biar didoain. ALHAMDULILAH naik, meski gak seberapa yang penting usaha. Iya kan?

Tapi, teman-teman.
Di dunia milenial ini yang paling penting adalah softskill dan nilai itu sebenarnya tidak selamanya menggambarkan kalau kamu benar-benar dapat ilmunya sih ya. Menurutku.

Permasalahan yang terjadi sekarang memang adalah akademisi manusia tuh semakin tinggi, sementara semesta butuhnya orang-orang yang selain sisi akademisnya tinggi sisi sosialnya juga ada gituloh... Tetapi sepanjang yang saya lihat adalah manusia-manusia semakin kesini semakin menghalalkan segala cara biar dapat IP bagus, biar dapat nilai bagus.
Sesederhana itu, yaa runtutnya sih ambil contoh pas lagi periksa laporan praktikan nih di laboratorium, gila keren tulisannya, materi pas banget, tapi pas ditanya gak tau apa-apa. Kan apa yaaa, ganjil aja gitu, yang kerja laporan orang yang sama tapi gak tahu isinya apa.

Kemudian, semakin kesini sisi sosial ninggalin temen demi nilai pun semakin terlihat. Ya maksudku masih ada beberapa pemakluman yang mungkin memang bisa dimaklumi untuk tetap mengikutkan teman daripada meninggalkan terus jatuhnya malah jelek ke teman kita. Siapa tahu besok-besok kita mengalami hal yang sama, bagaimana?

Yaa, kecuali kalau memang temannya gak ikut berpartisipasi sama sekali, baca grup saja tidak, tapi muncul digrup lain yang seperti itu mesti ditanya sih akhlaknya :v

Ada loh ya, ada. Beberapa orang yang memang tidak suka sekali dengan tugas kelompok bukan karena tidak ingin kerjasama. Cuma kadang, yang terjadi ketika dikasih tugas adalah "KETIKA TUGAS INDIVIDU DIKERJAKAN BERSAMA TAPI TUGAS KELOMPOK DIKERJAKAN SENDIRI"

Demi apa? Yaa Demi nilai.
Ketika dikasih tugas individu berbondong-bondonglah bikin kelompok belajar, biar dapat nilainya sama. Pas tugas kelompok eh malah ditinggal sendiri..

Hal itu sering juga saya temukan di menfess-menfess Twitter..

Kembali ke IP.
Soal IP dan IPK sebenarnya memang sangat sensitif ya untuk dibicarakan, apalagi kalau sampai nanya ke orang yang "baperan" jatuhnya malah menghujat, meski dalam hati. 
Banyak, ada banyak manusia-manusia khawatir kalau ikut organisasi, ikut komunitas, ikut kepanitiaan nanti IP nya jadi turun, jadi gak bisa fokus Belajar, yaa pokoknya jadi-jadilah. Padahal, dasar kamunya saja yang tidak tahu bagi waktu, menurutku.
Saya begitu bergidik ngeri sekali ketika manusia-manusia berpikir bahwa IP adalah segalanya dan ketika kuliah terus terikat pada satu hal diluar akademik akan membuat buyar IP.
Oh come on, berhenti membuat spekulasi dan menghakimi hal-hal yang tidak terkait padahal sebenarnya jatuhnya akademikmu itu karena diri kamu sendiri.

Ini sangat random ya menulisnya, tapi ya seperti itu.
IP memang penting, tapi attitude, akhlakmu, jiwa sosial, keahlian dan keterampilanmu lebih penting...

Tetap semangat, semester depan diperbaiki lagi.

Jadi, IPku tidak sampai 3.0, tidak apa-apa, kan?

Salam
Makassar, 28 Desember 2019
-ch-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...