B E N C I

Aku rindu menulis tanpa rasa apa-apa. Tanpa cerita yang diketahui orang-orang. Tanpa praduga-praduga. Dulu, menulis itu kebebasan, sekarang aku harus menuntut pilu aliran pembaca. Ada beberapa yang tak boleh kutulis, supaya menjaga rasa orang lain.

Berhenti berkata, itu hakku untuk menulis. Aku ini manusia. Punya rasa juga. Tak bisa ditawar juga.
Aku cuma ingin berkata, berhentilah seolah membuat dirimu korban. Masa lalu itu, adalah masamu dan masaku. Bukan masaku saja, dan tentu bukan masamu saja. Berhentilah, berhenti seolah paling terluka. Berhenti menyambung cerita yang dulu katamu tak ingin menulisnya...

Iya, Kali ini akhirnya aku bisa marah. Setelah lama memendam. Setelah lama terdiam. Aku memang sempat menyukaimu, begitu dalam, sungguh. Dan aku tak ingin sama sekali membencimu. Nyatanya, semua tidak bisa kuduga, kini aku membencimu. Kini aku kembali jadi batu. Kamu, aku menghargaimu, tapi tidak untuk kali ini, tidak untuk semua kata-kata manismu demi wanita yang entah mana yang kini kau tuju..

Ah, aku kini benar-benar membencimu. Ingin rasanya mengumpat tepat di depanmu..


Sekali lagi kuberi tahu, aku ini manusia. Sama sepertimu, punya rasa, meski kini bukan lagi mencintaimu.

Makassar, 22 Desember 2019..
-ch-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...