Menatap Cermin
Selamat
malam.
Aku
ingin bercerita, bukan karena tak punya teman cerita, tapi rasanya tulisan
lebih bisa menggambarkannya dibanding suara. Rasanya ingin kukeluarkan
semuanya disini, tapi, seperti biasa, aku hanya manusia tempatnya lupa. Mungkin
saja aku tidak handal sama sekali mendetailkan sebuah cerita hingga akhirnya
suara sumbang justru menerka lantas melanjutkan kisah yang kemudian justru
pembacanya lebih banyak dari cerita sebenarnya.
Bukankah
hal itu nyata di lingkungan kita, teman-teman?
Kita
tilik sebentar, di masa lalu. Kala semua baik-baik saja. Mungkin, kalian yang
membaca ini berpikir bahwa aku adalah tokoh paling egois yang hanya tahu
membuat sebuah tulisan pembelaan dan menjadi pecundang karena tak ingin
langsung berbicara.Tapi nyatanya, aku adalah manusia yang membuka suara namun
ditolak mentah-mentah dengan ucapan yang sangat menohok diselingi senyum beribu
arti “Aku tidak apa-apa” sseperti yang diucapkan tokoh yang sekarang entah ingin kusebut teman
atau malah kini berubah menjadi lawan. Sembari mengukir cerita baru agar
naskahnya diterima oleh orang-orang tanpa celah, tanpa sisi dan sudut yang tertutup rapi
dari palsunya mata yang seolah seperti anak kecil polos bercerita pada orangtuanya. Lalu siapa yang sebenarnya
yang harus meminta maaf atas naskah yang dicuri sebagian paragrafnya?
Berbicara
mengenai hal tersebut, apa jadinya sebuah komponen kata ketika penyusunnya malah
menjatuhkan penyusun yang lain? kata hubung atau tanda misalnya. Terjadi tanpa mengerti makna apa yang salah dan apa
yang semestinya diperbaiki. Berbicara
mengenai penyusun, apa yang sebenarnya membuat seseorang yang selayaknya hanya mengetahui ribuan kata yang terjadi pada dirinya sendiri, tetapi malah beralih
membuat naskah milik orang lain? seolah paham dan mengerti padahal hanya punya satu tanda baca yang justru tak merubah makna jika dipotong dari sebuah naskah cerita. Bukankah itu sungguh tidak moralis, kita sibuk
mengurus diri orang lain padahal cerita kita belum diselesaikan sendiri. Apa
yang terjadi? Terlalu sempurnakah diri kita ini?
Kembalilah
menjadi manusiawi.
Ketika kita yang menjadi orang yang kita buatkan naskah
penuh imajinasi demi kepuasan yang tak tahu bermanfaat untuk apa, kita berlari
pasrah, meratapi diri, mengutuk diri, mencari cela dimana berakhirnya naskah
kita ini.
Ternyata,
manusia memang senang lupa. Senang mengumbar tawa palsu, senang bersuara palsu.
Sesegukan tangis itu hanya terdengar kala malam semakin gelap di pergantian
hari. Ada apa dengan diri kita ini? Apa
justru kita yang merasa terbebani dengan naskah indah orang lain? Apa
sebenarnya kita terluka? Apa sebenarnya kita cemburu dengannya? Ah, yang benar
saja. Lantas siapa yang munafik sekarang? Dia yang kita antagoniskan atau kita
yang penuh dengan titik hitam?
Teman-teman..
Ada
apa dengan diri kita yang terlalu mencampuri orang lain?
Bukankah
kita punya hidup kita sendiri, ataukah memang satu tujuan hidup kita diambil
olehnya?
Tetapi
Bukankah
kita paham makna Tuhan yang mengatur segala arah rencana kita ?
Maka
sadarlah, kecewa yang kita dapatkan memanglah sebuah masalah. Masalah yang
artinya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, masalah yang membuat diri
kita justru bertolak arah tak rela melihat orang lain bahagia, punya banyak
teman, punya tawa diselingnya. Lantas, jika kita memaknai baghagia hanya
seputar kecewa jawabannya hanya ada pada jangan pernah menaruh harapan, karena
sejatinya tak ada satupun yang bisa menjamin harapan atas dunia yang ditanam,
kecuali Tuhan telah mengiyakan.
Apa
bahagia bagi kita memang hanya sebatas duniawi saja?
Lupakah
kita bahwa kita tengah memakan bangkai saudara seiman kita dengan menceritakan
hal yang tidak benar, dengan menceritakan jutaan hipotesa, dengan
menjelek-jelekkan, menghancurkan namanya?
Apa
yang sebenarnya terjadi dengan kita?
Maka
biarkan aku memaknai, fase memaafkan.
Fase
yang kumaknai bahwa kata “Maaf” bukan hal yang sulit melainkan ego yang
mendominasi. Fase manankala hati yang berkali-kali jatuh dikecewakan mencoba
bangkit untuk tetap memberikan senyuman. Fase memaafkan yang pahamku adalah
menenangkan, tak perlu terlihat pun dengan ucap “maaf” dengan suara bergetar.
Memaafkan, hanya perkara diam, tenang dan membiarkannya tenggelam. Berdirilah depan cermin, awali dengan memaafkan diri sendiri.
Makassar,
16 Juni 2019.
Salam
hangat, mari memaafkan.
_ch
Komentar
Posting Komentar