Siang ini langit mungkin tak semendung kemarin, begitu pun kamu yang tak seramah kemarin.
Semilir angin yang meniup titik embun di dedaunan entah mengapa perlahan lahan menyingkir, mungkin karena ia pun mulai lelah dengan tamak ku yang ingin sekali diperjuangkan. Hati, kamu sedang apa disana? Masihkah rasa cemburu mu terpendam lagi dan lagi?
Hati, kamu sedang apa? Hujan kemarin membuatku ingin memeluk tiap goresan kenangan hari itu. Hari di mana hujan memang sengaja turun untuk membasahi kita, membiarkan kita meredam amarah masing masing, membiarkan kita mendekap teduh di bawah atap halte yang menjadi saksi bahwa hati ku benar bwnar berdesir kala itu. Hati, kau tahu? Aku bahkan tidak pernah merasakan apa itu rindu, tapi sejak itu, sejak senyummu benar benar terpampang untukku aku benar benar merasakannya. Ya, aku rindu dan aku luluh. Hati, kau tahu? seandainya setumpuk kata pun tak bisa lagi kurangkai, setumpuk tinta selalu memintaku untuk menuliskan tentangmu. Tapi, apa aku berhak untuk menulis sekiat rasa yang kumiliki padamu sedang aku tak tahu menahu apa yang ada dipikiranmu, bahkan bagaimana jika kamu membenciku? bukan kah aku akan terlihat seperti gadis bodoh yang menunggu bulan di tengah terik matahari?
Hati, kamu harusnya tahu kalaupun nanti kita tak bersama itu bukan karena aku yang pergi, namun kamu yang memang berpaling. Berpaling kataku? Ahh lagi lagi ini hanya imajinasi ku yang memuncak. Bagaimana mungkin kau akan berpaling sedang kamu memang tak pernah berkata ingin menetap. Ya benar, aku menetapkan mu sepihak. Harus kah aku mengatakan padamu bahwa aku menunggumu?
Hati sekali lagi, jangan membuatku risih.
Seharusnya kita memang tak perlu saling khawatir karena kita masih punya waktu yang begitu panjang dan bertemu dengan orang lain yang mungkin saja akan membuat kita saling melupakan satu sama lain.
-ch-
Benang Merah
Barangkali kehadiranmu memang hanya untuk memberiku ruang untuk bahagia sementara....
Komentar
Posting Komentar