Baca
Permulaan yang kau baca. Di setiap kata yang kemudian aku berharap pada perjalanan panjang yang kita mula. Aku masih memujimu, dengan ribuan kata rindu pun cinta berujung ini - itu. Di setiap roda haru yang menghantarku kepada angin yang membawamu pergi dengan paksa itu. Apa sebahagia itu sekarang ?
Aku masih sebegitu rindu. Perihal barangkali masih ada kesempatan untuk bermula cakap ini dan itu, sebab walaupun kamu terlalu jauh dan aku percaya kamu sempat mengingat barang satu hal tentangku, aku masih ingin bercakap sekali bahkan ribuan kali denganmu.
Aku sebegitu rindu, sebab menahun yang lalu terakhir bertemu denganmu. Tak sempat lagi kudengar suaramu yang mungkin telah berubah itu. Aku sebegitu rindu, sebab aku tidak bisa melihat keseharianmu sebagaimana kulihat kau dari jauh dahulu. Aku sebegitu rindu, hingga khayal harusnya aku berada di sampingmu sejak dulu.
Permulaan yang kau baca. Entah benar akan terbaca atau tidak, entah akan lewat dan kau tilik atau tidak. Aku mencintaimu, mungkin. Jika pantas kusebut perasaan ini sebagai cinta yang kurangkai sendiri, jika pantas untuk aku mencintai. Aku mencintaimu, dengan rasa yang tak bisa kuamini sebab tak tahu kamu sedang apa disana dan bagaimana keaadaanmu disana. Aku mencintaimu, dengan jarak dan waktu yang tidak kutahu akan mampu kulangkahi atau justru membuatku kalah lagi. Aku mencintaimu meski aku tak ingin kamu jauh dan kita tak bisa untuk saling mengerti perihal itu.
Bila di satu masa, kita bertemu, apa mungkin aku bisa berucap "aku mencintaimu" seperti yang kutulis itu ?
Pertengahan yang kau baca. Aku masih ragu. Ragu dengan hidupku yang sangat jauh berbeda denganmu. Ragu dengan kasta ini dan itu. Ragu dengan keberantakanku dan keharmonisanmu. Ragu dengan lukaku dan percayamu.
Kukira malam akan selalu malam, ternyata malam pun akan jadi pagi, dan pagi pun akan jadi malam. Kita terlalu beda. Terlalu banyak. Terlalu yang semakin membuat semesta memelukku erat untuk tak lagi berharap. Terlalu tinggi. Sekali. Sungguh dan teramat sangat. Keajaiban macam apa yang bisa kuharapkan selain restu Tuhan yang bisa menyampaikan harap - harap ini padamu? Cuma itu. Cuma Tuhan yang Maha Tahu.
Akhir yang kau baca, tak khayal dengan apa aku mampu membuat diriku berani berbicara. Akhir yang kau baca, tak kutahu ingin membahas perihal apa agar kita bisa kembali bercakap ria. Akhir yang kau baca, aku tetap menunggu supaya kamu bisa menilikku barang sebentar saja.
Komentar
Posting Komentar