Abu - Abu #1

 Langit abu - abu.

Awan membentuk mendungnya, memberi aba - aba tentang hujan yang segera datang. Aku percaya, tapi dia tidak. Senang sekali dia mengutip kalimat yang ngehits "Mendung tak berarti hujan, seperti kita yang dekat tapi gak jadian", ucapnya disusul tawa renyah yang menular itu. 

Responku?

Ya seperti biasa, aku diam. Aku rasanya tidak bisa lagi percaya tentang kata - kata yang dirangkai oleh siapapun, bahkan diriku sendiri. 

Langit itu semakin abu - abu. Mendung. Sudah hampir 30 menit aku menunggu rintik - rintik dari air yang menguap itu berjatuhan. Sepertinya benar, aku terlalu berharap untuk turun hujan. Tanganku rasanya sudah mengadah 50 kali jika saja aku berniat untuk menghitungnya. 

Dia tersenyum sekali lagi, mengulang ucapannya "Mendung tak berarti hujan", menambah satu kalimat lagi "Sampai kapan menunggu yang tidak pasti?"

Dahiku mengerut. Menatap matanya dengan tatapan penuh intimidasi. 

"Hujannya" lanjutnya (lagi). 

"Sampai kapan? Aku tidak menunggu apa - apa. Aku cuma menunggu hujan itu turun, aku cuma takut basah kuyup jika harus menerobos saat ini juga. Jangan sampai baru di depan sana hujannya langsung turun dan aku basah lalu bagaimana ?"

Dalam hati. Tidak mungkin kuucapkan seperti itu padanya. 

"Tapi hujannya memang tidak turun - turun, kan?" suaranya kembali terdengar seolah membaca pikiranku. 

"Pulang denganku saja" sambungnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Bukan, dia tidak genit sama sekali, mungkin kita sudah terlalu sering bersama sampai dia tidak menganggap itu sebagai sebuah kegenitan.

Mataku tetap menghadap ke langit. Sesekali tanganku kembali mengadah. Aku tersenyum miris. 

Dia yang kucinta terlalu jauh, dia tidak bisa lagi kugapai, kan? Dia sudah tidak bisa melihat ke arahku, kan? Tapi, apa langit disini dan di tempatnya sedang sama, ya?

Lagi, aku terlalu banyak pertanyaan. Pertanyaan - pertanyaan yang tidak akan terjawab. Pertanyaan - pertanyaan yang harusnya tidak boleh lagi muncul di dalam kepala. 

"Bagaimana? Masih menunggu hujannya turun?"

Kutatap dia yang berjarak satu langkah di sebelahku. Dia terlalu baik. Bukan. Dia selalu baik, kepada siapapun, bukan cuma aku, iya kan? 

"Ayo pulang" jawabku sambil melangkahkan kaki,

"Akhirnya...." kudengar suaranya samar - samar, kurasa bahwa ia sedang tersenyum lalu mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.

Ya, hujan itu ternyata memang tidak turun, seperti harapanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...