Sungkan.
Tidak tahu tapi aku selalu menimang - nimang alasan Tuhan memberi perasaan ini.
Beberapa menduga aku terluka dengan begitu terlalu sedang aku menikmati itu. Bodoh ya? Menjelang tiga tahun menunggu pesan setiap malam.
Tunggu,
Tapi rasanya kita sudah sangat asing, bukan? Menanyakan kamu sedang dimana saja aku sudah sangat enggan... Bukan enggan, sungkan.
Tapi lewat sini aku mungkin bisa menanyakan kabarmu, kan ? Ahh terang saja, aku memang rindu. Tidak perlu kujabarkan dengan rumus apapun perihal rinduku sebab apalah gunanya? Matematika tidak serumit kamu. Aku lebih senang menggunakannya dengan buku yang pasti dibanding kata - kata manismu yang entah sudah berapa kali kau tulis di buku lain.
Tentu saja ini bukan tentang buku.
Tentu saja ini perihal aku dan kamu. Toh buku ternyata tidak cukup untuk membuatmu mengerti akan tuntutan perasaanku.
Iya tuntutan perasaanku. Memangnya ada orang yang biasa - biasa saja jika rasanya tertolak? Memangnya aku tidak boleh marah?
Toh kalau tidak boleh marah padamu aku akan marah pada diriku sendiri. Bodoh sekali bisa jatuh cinta pada manusia sepertimu. Bodoh sekali melewatkan banyak hati demi kamu yang seperti kulkas seribu pintu. Iya aku sedang marah, tidak usah menduga - duga akan keadaanku sekarang. Kepalaku memang sudah penuh akan tanda tanya akan rasa - rasa yang kini akan menuju lucu. Bahkan terlalu lucu hingga aku tak mampu lagi menahan semua pilu.
Tidak tahu lagi akan semua ini tapi aku akan selalu menimang - nimang alasan Tuhan memberi perasaan ini, akankah pada suatu maksud agar aku belajar menerima paket lengkap cinta yakni bahagia dan juga luka alias suka - duka alias kehidupan yang sempurna.
Komentar
Posting Komentar