Aku Masih

Di malam ini, akhirnya kita benar-benar tak memulai percakapan sama sekali. Ternyata, kita benar memasing-masingkan diri, atau mungkin memang akulah yang akhirnya sadar bahwa tak seharusnya memang kita itu ada.

Dulu, aku sangat bahagia. Menyadari bahwa kamu orang yang baru kutemui di tempat yang tak pernah kurencanakan itu bisa membuatku merasakan yang namanya jatuh cinta. Aku bahagia. Sungguh. Seiring berjalannya waktu, aku terus menulis tentangmu, apapun itu, aku tak bisa lagi menerima permintaan teman-temanku untuk menulis kisahnya karena bagiku kisahku sendiri sangat indah untuk kutulis. Sampai seiring waktu di hari-hari bahagia berujung patah hatiku itu, kutulis sebuah buku yang kupoles sedikit agar tak terlalu terlihat itu untukmu. Aku takut, takut sekali jika kelak kamu membaca tulisan itu, sebenarnya. Tapi setelah kupikir-pikir, rasanya memang harus kusampaikan saja. Iya, tentu saja aku berbicara dulu pada Tuhan, rasanya Tuhan memang mengizinkan akan itu, aku menerbitkannya. Aku mulai memasrahkan diri.

Di suatu hari kamu meminta buku itu, aku mulai khawatir. Aku mulai takut lagi, beberapa kali kucoba agar tidak ada celah untuk bertemu denganmu, agar buku itu tidak sampai padamu. Di hari-hari itu, aku kembali bimbang, aku kembali bercerita pada Tuhan. Lagi, untuk kesekian kali, Tuhan menginginkan agar buku itu kuberikan padamu. Di satu malam setelah aku mematikan status mahasiswaku lagi-lagi kamu mengajakku bertemu, dan iya, aku memberikanmu buku itu, kau membalasnya dengan sebatang coklat. Tentu saja, siapa yang tidak bahagia diberi sebuah coklat oleh orang yang disukai? Tidak peduli atas apa karena aku tahu itu pasti cuma sekadar penyelamatan atas status Sarjana yang baru kuraih, bukan ungkapan perasaan atas perasaanku. Aku tahu itu, dan itu menyakitkan.

Singkat cerita, kamu selesai membaca buku itu, dan kamu memintaku untuk menceritakan siapa orangnya. Bodoh sekali, sungguh. Aku tidak tahu kamu itu pura-pura atau kamu cuma mau agar aku mengungkapkan perasaanku langsung padamu? Beberapa hari kemudian, aku menanyakan padamu tentang status kita apakah kita memang dekat atau tidak. Dan kau malah balik bertanya padaku, bodoh sekali. Sungguh. Selain pelupa, kamu juga ternyata bodoh. Tapi aku lebih bodoh. Aku tahu itu. Lalu, setelah itu kau memberiku sebuah "tantangan" padamu, yaitu MEMBUATKANMU PUISI. Hahahahha, aku ingin sekali memakimu malam itu, kau itu sebenarnya batu atau apa? Malam itu aku sadar, kamu benar hanya menganggapku sekilas saja, tak ada makna apa-apa. Malam itu, adalah malam pertama aku menangis karena mencintai seorang pria.

Sampai saat ini aku berpikir, apa memang jatuh cinta sesakit ini? Apa memang jatuh cinta harus membuatku menangis? Apa kamu memang tidak mengharapkanku sama sekali?

Aku akhirnya memilih berhenti, lebih tepatnya, mencoba untuk berhenti. Jika kamu membaca ini, tolong cukup sampai disini, jangan membuatku semakin terluka, jangan membuatku semakin muak akan yang namanya "cinta". Terima kasih sempat mengenalkanku akan setitik bahagia yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta. 

Aku, masih menyayangimu.


-ch-


Makassar, 23 Januari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumohon

Harusnya menguatkan kita...