Pesan Lama
Membaca pesan lama tiba-tiba menjadi hobi belakangan ini. Penyebabnya ya karena sudah tak pernah saling berkirim pesan lagi. Padahal setiap hari alasan untuk aktif di beberapa aplikasi yang terhubung dengan si pengirim pesan itu hanya untuk menerima pesannya.
Membaca pesan lama ternyata tak selamanya menyisakan luka. Ada jua sisa-sisa bahagia disana. Iya, ternyata membaca pesan lama juga punya ruang bahagia tersendiri.
Meski kini tak berkirim pesan lagi, entah karena sibuk, atau apapun itu, akhirnya kebiasaan tiap hari adalah membaca pesan-pesan lama itu, membayangkan seolah ada percakapan setelah sekian lama memendam rasa yang entah sama-sama kita miliki, atau cuma sepihak yang memiliki.
Pesan-pesan lama setelah sekian lama tak berkirim pesan itu kubaca ulang, indah dan hangat, di masa itu. Hari ini, setelah sekian waktu tak berkirim pesan, rasanya dingin, rasanya ingin mengirimimu pesan lagi, lebih dulu. Tapi, ya namanya perempuan banyak tapinya lalu tersiksa sama diri sendiri.
Membaca pesan lama itu, membuatku kembali berpikir, kita sedekat itu ya ternyata? atau kita ternyata pernah ya sedekat itu? atau sebenarnya kita ini apa sih? Saling berkirim pesan hingga larut malam, agar bisa mengetahui keadaan masing-masing. Saling meminta maaf ketika salah satunya berpikir karena membuat kesalahan. Saling bertanya untuk mencari pembahasan meski ujung-ujungnya hanya bisa mengirim emoji supaya pesannya tidak terhenti. Ah klise, romansa itu benar-benar ada walau hanya di balik pesan.
Dulu, pesan yang bahkan menyiratkan menyuruh untuk tidur itu terasa begitu hangatnya, meski hanya sebuah kata yang entah benar-benar menyuruh untuk tidur agar bisa beristirahat atau hanya alibi karena sedang berkirim pesan dengan yang lain, yang kita tahu hanya bahagia karena menerima pesan itu.
Dulu, ajakan yang sebenarnya cuma candaan itu kita kaitkan sebagai sebuah janji, padahal pengirimnya cuma ingin menyenangkan hati untuk sehari. Entah benar janji, atau hanya pemanis pesan yang berusaha membuat semua semakin terasa manis. Tapi kalau boleh jujur, aku masih menunggu janji itu, haha!
Pesan-pesan lama itu sudah kubaca lagi, berkali-kali dalam sehari, entah mengapa hati benar-benar tergerak untuk mengulangi, tapi tak sepenuhnya, aku inginnya tidak berhenti di malam itu. Di malam yang akhirnya kamu memilih untuk membacanya, dan tak lagi mengirimiku satupun pesan hingga detik ini. Jika kamu membaca ini, boleh kita ulangi? -ch-
Kalukku, 8 Juni 2020.
Komentar
Posting Komentar