Aku Cuma Merindukanmu
Selamat malam..
Bagaimana kabarmu? Kuharap kamu baik-baik saja, sama seperti diriku. Meski mungkin menurutmu aku hanya terkesan untuk terlihat baik-baik saja di hadapanmu.
Sudah hampir satu bulan, kita terjebak menjadi dua manusia asing. Entah marah, atau memang egois itu memang nomor satu untuk diperjuangkan. Ya, aku akui aku yang egois. Termasuk, egois untuk menginginkan kita tetap bisa bertemu, berdua saja, bercerita tentang hari yang melelahkan atau repotnya rasa tanpa kepastian.
Hey, apa aku mengutarakan seperti aku sedang merindukanmu?
Tapi nyatanya begitu.
Aku hanya tidak habis pikir mengapa sekelibat rumit ini bisa datang padaku. Kuakui, aku memang mungkin tak pantas untukmu. Kuakui, bagaimanapun itu, apapun yang kulakukan akan aku yang salah di mata orang lain.
Lagi, "orang lain". Aku bahkan dulu sama sekali tidak memikirkan apa yang orang lain katakan akan sikapku. Tapi sekarang, lihatlah. Sejak kalimat orang-orang lain itu terdengar, akhirnya aku paham mengapa kamu mengatakan "depresi" adalah keadaanku saat ini.
Rumit sekali. Setelah berhari-hari belajar mengenai depresi, akhirnya aku paham. Mungkin saja aku depresi, dan mungkin saja aku hanya merasa sedih. Depresi dan sedih karena tidak siap dengan keadaan Dan kenyataan bahwa kamu tidak akan terus bersamaku, tidak akan bisa menjadi tempat ceritaku selalu, tidak akan pernah melihat ke arahku, begitu?
Ah, biar kutebak. Kamu akan berkata pikiranku selalu mengarah negatif untuk diriku sendiri. Tapi kenyataannya begitu kan, menurutmu?
Kemudian, kamu akan selalu baik-baik saja, karena bagimu, aku akan selalu menerimamu, kapanpun.
Aku tidak tahu menulis apa sejak tadi.
Plotnya tidak beraturan.
Aku hanya,
Hanya ingin bertemu denganmu, itu saja.
Lantas kamu akan bilang lagi apa susahnya mengajak bertemu langsung dibandingkan menulis di sw atau di blog atau dimanapun?
Kamu akan bilang aku senang sekali merumitkan sesuatu.
Padahal, aku hanya ingin kamu bisa paham padaku. Meski sedikit, meski aku bukan apa-apa untukmu.
Bukankah kamu adalah satu-satunya manusia yang bisa memahamiku disini?
Aku hanya ingin bertemu. Itu saja.
Meski nantinya tanpa suarapun, aku hanya ingin bertemu, menyelesaikan alur cerita, menyelamatkan hatiku yang berujung patah.
Aku cuma merindukanmu.
-ch-
Makassar, 02 November 2019
Komentar
Posting Komentar