Pimpinanmu itu juga Manusia
Assalamualaikum,teman-teman.
Sedikit ingin menulis
saja hari ini, harusnya tulis proposal saja ya.Hehe.
Sedikit bercerita,tapi jangan
salah menilai. Ini bukan sebuah curhatan.
Seperti pada umumnya, organisasi
ketika dipijaki yang dilihat pertama kali pasti Pimpinannya.Itulah mengapa, jadi
pimpinan atau ketua dalam suatu organisasi itu berat. Tapi,dibalik keberatan
itu disitulah letak pelajaran yang teramat dalam.
Pimpinanmu itu juga
manusia, sama sepertimu sama-sama hamba-Nya. Sama sepertimu, sama-sama punya
rasa. Jadi, jika suatu hari dia jatuh di hadapanmu, tangkaplah.meski selayaknya
memang seorang pimpinan tidak boleh seperti itu.
Ah teman-teman,aku
lupa, aku menulis ini bukan berarti aku hantam penuh tentang organisasi. Aku
hanya ingin menulis saja.
Pimpinanmu itu juga
manusia. Hatinya khawatir setiap malam tentang kalian, semoga saja kalian
khawatir dengan dia. Dia itu bingung setiap hari ingin mengirimimu pesan,
sekadar bertanya “Kamu, masih mampukan bertahan?” sekadar ingin meminta maaf “Maaf,belum
bisa menjadi pimpinan yang baik untuk kalian”. Kamu pernah tidak bertanya ke
dia “Kamu sudah istirahat hari ini?”
Pimpinanmu itu juga
manusia. Dia juga ingin diperhatikan bukan hanya memerhatikan. Itulah mengapa,
saling menghargai,menghormati dan menyayangi dalam satu organisasiitu penting.
Supaya,kepala kalian tak jatuh tersungkur. Memangnya kalau kepalamu jatuh kamu bisa
terbangun? Yakin?
Pimpinanmu itu juga
manusia, punya rasa. Dan rasa yang dimiliki sudah ditanam dan dikubur ke paling
dasar, tenggelam. Supaya, jika suatu hari kata-katamu menyakitinya dia tidak langsung
pergi tapimemilih memasang topeng senyum di hadapanmu.Supaya apa? Supaya saat
kamu memilih meninggalkannya, kamu bisa ingat seberapa tulus senyum yang dia
berikan untukmu agar kamu tetap tinggal bersamanya. Setidaknya hingga satu
periode itu selesai, karena kehadiranmu selayaknya sudah menjadi kontribusi
terbesar baginya. Tentunya dengan harapan kaupun bisa memberikan padanya satu
hal terbaik untuk periode kepengurusannya.
Tapi bagaimana jika
suatu hari, pimpinanmu itu akhirnya marah?
Beberapa orang lebih
memilih untuk membenci tanpa menelusuri dulu perkara yang ada seperti apa.
Beberapa orang memilih berhenti dan tidak menghargai usaha yang diluangkan
selama ini. Beberapa orang terus berada di zona "tidak enak" dan
berdiam diri lagi dan lagi. Beberapa orang merasa tertekan padahal yang mereka
anggap sebagai penekan tidak lain hanya mengingatkan dan justru dialah yang
teramat tertekan melebihi dari arti underpressure itu sendiri. Beberapa orang
lain bertahan dengan wajah palsu, beberapa lagi yaa bodoamat, dan justru
menjudge "layakkah dia menjadi
pemimpin kita?"
Beberapa orang sakit
hati, memilih pergi atau berdiam diri.
Padahal, yang perlu
diperbaiki adalah sistemnya, kadar rasanya dan kesadaran tanggung jawabnya. Ketika
perkara akademik, perasaan dan organisasi bertabrakan, apa yang semestinya kita
lakukan? Sebagai pimpinan dan sebagai anggota harusnya saling memahami dan
menghargai. Kalau tatanan negeri masih seperti ini, yakin akan masih ada nanti?
Mungkin ada, tapi rasanya sudah berbeda.
Ayo perbaiki, niat dari
diri sendiri.
Maafkan semua yang
salah, kita perbaiki dulu dari yang kecil dan tak terlihat mata.
Sebagai manusia yang
baik,kita semestinya menyelesaikan dengan baikapa yang telah dimulai dari awal.
Semangat, Cheer up!
-ch-
Makassar, 13 Agustus 2019

Komentar
Posting Komentar