lukalama...
Fotonya kini sudah usang. Benar bahwa harusnya yang lama tak perlu ditoleh lagi. Sedari tadi jariku menilik hal - hal yang sudah lama, pesan lama, foto lama, pun ingatan - ingatan lama. Aku selalu ingin membuatnya jelas, bahwa dia hanya pergi sebentar, sedikit lagi pulang. Tapi kenyataannya dia sekarang bersamanya, tak mungkin pulang. Bukan, dia sudah pulang, di tempat seharusnya, bukan disini, tapi disana. Aku selalu dan terlalu ingin membuatnya jelas, hingga masanya adalah kini kau adalah dia, dia adalah kau. Kenangannya terlalu banyak untuk dilupa begitu saja, meski telah bertahun lamanya. Meski jemari kini sungkan mengirim pesan. Meski kini series kesukaan kita sudah berakhir musimnya, meski cerita - cerita rumit kini tak lagi bisa kuceritakan, meski puisi - puisi cinta tak bisa lagi kukirimkan, aku nyatanya masih diam. Entah sampai kapan... Kutilik lagi sebentar, foto profile-mu yang kini berdua dengannya. Haha. Aku cemburu, tentu saja. Tapi itu tak perlu, tak perlu untuk kau tima...